Nabi Tak Pernah Berperang karena Beda Agama

Posted: February 3, 2009 in Artikel

Nabi Muhammad SAW, pemimpin besar umat Islam, tidak pernah berperang karena masalah beda agama. Peperangan dengan orang-orang kafir pada masa Nabi tidak terjadi atas dasar agama, namun karena mereka telah menebar ‘fitnah’ sehingga menimbulkan chaos di kalangan masyarakat.

Demikian dikatakan KH Lukman Hakim, pemimpin (mursyid) Tarekat Sadziliyah Jakarta, saat memberikan Pengajian Ramadhan pada peringatan hari ulang tahun keempat Wahid Institut (WI), di kantor WI, Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta, Senin (8/9). Pengajian juga dihadiri oleh penggagas WI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

”Illat atau penyebab peperangannya adalah karena mereka telah menebar ’fitnah’ yang menimbulkan chaos di kalangan masyarakat, bukan karena masalah beda agama,” katanya.

Pimpinan umum majalah Sufi itu menyitir ayat 193 surat Al-Baqarah, ”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi”. Menurutnya, ayat ini sering disalahfahami oleh sekelompok umat Islam garis keras.

Fitnah yang dimaksudkan sebenarnya adalah perbuatan-perbutan yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Ditambahkan, pada masa pemerintahan Sahabat Abu Bakar, tentara Islam juga memerangi kelompok orang-orang yang murtad atau keluar dari Islam. Namun peperangan itu sebenarnya bukan karena mereka keluar dari Islam tetapi karena mereka tidak membacayar zakat.

“Waktu itu seorang sahabat yang vokal yakni Umar bin Khattab memprotes Abu Bakar, ‘kenapa engkau melakukan apa yang tidak Nabi lakukan?’ Abu Bakar menjawab, ‘aku perangi mereka karena tidak mau mematuhi tatanan yang telah ditetapkan pada masa Nabi masih hidup (membayar zakat) dan pasti akan menimbulkan fitnah sosial,” katanya.

Dalam pengajian bertajuk “Sufisme Islam untuk Perdamaian Dunia” pakar tasawuf itu berpesan bahwa upaya menempuh perdamaian itu pada saatnya akan berhadapan dengan kekerasan.

Gus Dur yang memberikan taushiah setelah pengajian itu hanya memberikan tanggapan singkat, “penolakan itu adalah pemberian itu sendiri,” katanya. “Al-man’u ‘ainul atho`,” kata Gus Dur mengutip salah satu kata mutiara dari Al-Hikam, kitab sufi karya ulama sufi terkemuka Syeikh Athoillah as-Sakandari. (nam)


Original Resource:NU Online edisi 09 Sept 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s