Mohon Maaf Ahmadiyah

Posted: April 29, 2008 in What This

Oleh : Masykurudin Hafidz
Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami memasukkan keyakinan dan keberadaan Anda
sebagai persoalan besar yang mengancam negeri ini. Daripada
kemiskinan, kelaparan, kenaikan harga bahan pokok, serta biaya
pendidikan yang makin mahal, kami lebih suka memilih Anda sebagai
sasaran pekerjaan. Keseriusan kami semata-mata karena ini menyangkut
keyakinan; sesuatu yang sangat prinsipil bagi setiap umat manusia.

Bertahun-tahun kami dikondisikan untuk selalu curiga terhadap lain
keyakinan. Ibarat musuh dalam selimut, ia lebih berbahaya karena bisa
menyerang siapa saja dan kapan saja. Kami tidak terbiasa untuk terbuka
dan mempelajari dengan serius sistem keyakinan lain tanpa harus takut
terpengaruh karenanya. Sebagai mayoritas, justru yang kami lakukan
adalah membuat Anda merasa tidak aman, tidak nyaman dan tidak bebas
menjalankan ibadah serta kegiatan sehari-hari.

Memangnya kenapa kalau kebebasan Anda untuk beribadah kami ambil alih?
Kami ini sangat sensitif terhadap agama di luar agama resmi sehingga
selalu berusaha untuk melarang dan menutup tempat ibadah Anda. Kami
merasa berhak untuk menentukan status keyakinan Anda. Apa yang kami
hakimi sebagai sesat, itu berarti kami boleh menghilangkan hak sebagai
warga dalam mendapatkan perlindungan di negeri ini.

Kami menutup mata terhadap sumbangan Anda kepada kemanusiaan (humanity
first). Jaringan yang sangat luas tersebar di belahan bumi membuat
Anda mampu menyalurkan bantuan terhadap kemiskinan, pendidikan, dan
korban bencana. Di Indonesia, jumlah anggota organisasi Anda yang
hanya lima ratus ribu sanggup mengumpulkan puluhan miliar setiap
tahun. Anda juga punya televisi yang berpusat di Inggris sehingga
dunia dapat melihat bahwa Indonesia adalah negeri yang damai, terbuka
dan kondusif untuk investasi.

Tetapi inilah kami. Kesepakatan kita bahwa di negara ini tidak ada
yang boleh didiskriminasi tiba-tiba kami ingkari. Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin kebebasan beragama dan
berkeyakinan tidak lagi kami jadikan sabuk pengaman bagi integrasi
bangsa. Negara sebagai penjamin atas hak-hak bagi setiap warga,
termasuk Anda, lalai dan sengaja membiarkan saat Anda menjadi sasaran
kesewenang-wenangan .

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak bisa menerima perbedaan. Kami tidak
menganut pluralisme karena paham itu datang dari luar. Kami punya
keyakinan sendiri yang sesuai dengan ajaran kami. Kami bisa melakukan
larangan dan melakukan tindakan kekerasan jika tidak sesuai dengan
keyakinan kami. Tuhan pasti berada di pihak kami karena kami yang
paling benar. Kami adalah khalifah Tuhan yang diperintah untuk
meluruskan keyakinan Anda.

Tidak bisa kami menghentikan perhatian terhadap masalah perbedaan
keyakinan karena hal itu menjadi faktor yang membuat bangsa ini dalam
bahaya. Kami lupa bahwa negeri ini adalah salah satu negeri paling
plural di dunia sehingga kesatuan akan tumbuh jika masing-masing
keyakinan dihormati. Persatuan Indonesia yang menuntut bahwa setiap
orang berhak beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan
keyakinannya, entah itu sesuai atau tidak dengan keyakinan yang lain,
tiba-tiba kami singkirkan.

Itulah kenapa kami menyerang masjid-masjid tempat Anda beribadah.
Padahal ajaran kami mengatakan, kami tidak boleh menyakiti orang lain
tanpa alasan apa pun. Tidak boleh menyerang orang lain kecuali sekadar
mempertahankan diri. Bahkan ketika orang lain menyerang kami tiba-tiba
meminta perlindungan, wajib hukumnya bagi kami untuk melindunginya.

Perlindungan terhadap orang lain tanpa memandang keyakinan sering kali
kami temui dalam ajaran kami. Kami masih ingat saat Rasulullah
Muhammad menerima para tamu yang datang dari kelompok yang
berkeyakinan lain di masjid Madinah. Saat rombongan tersebut meminta
izin keluar untuk melakukan kebaktian justru Rasulullah mempersilakan
untuk beribadah di Masjid Nabawi. Masjid justru digunakan untuk
menerima dan membangun toleransi antaragama.

Bahkan dengan sangat tegas Rasulullah menjamin jiwa, harta, dan agama
para penganut keyakinan di luar keyakinannya. Ia mendeklarasikan
Piagam Madinah sebagai undang-undang bersama untuk hidup berdampingan
secara damai dan toleran. Kami tahu, di dalam piagam tersebut
dijelaskan bahwa masyarakat yang hidup di Madinah saat itu, yaitu
Islam, Yahudi, dan Kristen, disebut sebagai satu umat (ummatan
wahidah). Isi piagam tersebut juga memuat untuk mengemban tanggung
jawab yang sama dalam menghadapi tantangan dari luar. Tidak boleh ada
diskriminasi, siapa pun yang berada di Madinah harus dilindungi serta
tidak boleh ada yang terluka, apa pun keyakinannya, bagaimanapun latar
belakangnya.

Di negeri tercinta ini, kami juga mengerti bahwa Undang-Undang Dasar
1945 kita menegaskan bahwa jaminan konstitusional tentang hak untuk
hidup, untuk tidak disiksa, untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani,
untuk beragama, untuk tidak diperbudak, dan untuk diakui sebagai
pribadi di hadapan hukum adalah hak asasi manusia yang tidak dapat
dikurangi dalam keadaan apa pun.

Demikian pula, kami tahu bahwa bangsa ini telah menjadi bagian dari
masyarakat internasional yang meratifikasi Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia lewat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999. Bahkan bangsa
ini juga sudah mengesahkan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil
dan Politik melalui UU Nomor 12 Tahun 2005. Kedua ketentuan tersebut
menegaskan jaminan negara atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Namun, ajaran dan teladan Rasulullah begitu jauh dari kami. Tidak
perlu ada kesesuaian ajaran dan undang-undang dengan tindakan
sehari-hari. Juga kesepakatan kita dalam menjalankan roda kehidupan
bangsa ini tiba-tiba seperti angin lalu. Tugas kami sebagai pengayom
seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi kami abaikan. Kami diam saja,
bahkan ikut menyuburkan praktek diskriminasi dan penafian atas hak-hak
kebebasan berkeyakinan. Padahal, itu hak paling asasi yang
dianugerahkan Tuhan. Semangat kebangsaan kami memang sedang defisit.
Kami gampang terpengaruh oleh isu-isu murahan dan sentimental.

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak mampu melindungi Anda. Kami tidak
bisa menjamin jika suatu saat rumah atau masjid Anda akan diserang.
Sekali lagi, mohon maaf.

Take From: KMNU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s