Apakah Masalahnya Akan Selesai Jika Ahmadiyah

Posted: April 25, 2008 in Artikel

Menjadi Agama Baru?

Ruzbihan Hamazani

Keberatan sejumlah kelompok Islam terhadap
Ahmadiyah, antara lain, adalah bahwa sekte ini
menganut ajaran yang berlawanan dengan akidah Islam,
terutama kepercayaan tentang adanya nabi setelah
Nabi Muhammad. Ini berlawanan dengan doktrin standar
Islam tentang finalitas kenabian Muhammad. Mereka
mengatakan: jika Ahmadiyah mau tetap diakaui sebagai
bagian dari umat Islam, maka sekte itu harus kembali
ke ajaran Islam yang benar. Dengan kata lain, harus
meninggalkan doktrin kenabian mereka. Jika tidak,
mereka harus mendirikan agama baru di luar Islam.

Banyak tokoh Islam yang berpandangan bahwa masalah
Ahmadiyah akan selesai jika kelompok ini mau
memisahkan diri dengan baik-baik dari Islam, dan
mendirikan agama baru. Pandangan ini tampaknya
mendapat banyak pengikut di kalangan tokoh-tokoh
Islam. Mulai dari Ketua MPR, anggota DPR, menteri
agama, sejumlah tokoh dalam MUI, dan tokoh-tokoh
Islam lain pernah mengemukakan hal ini secara publik
lewat media massa.

Pertanyaannya: apakah betul jika Ahmadiyah menjadi
agama baru, masalahnya akan selesai? Apakah benar,
jika kelompok ini menyatakan diri sebagai agama baru
di luar Islam, dia tidak dimusuhi lagi oleh sejumlah
kelompok dalam Islam sebagaimana kita lihat saat
ini?

Saya, terus terang, ragu sama sekali. Argumen ini
dikemukakan oleh banyak kalangan Islam (terutama
yang konservatif/ fundamentalis) sebagai “taktik
sementara” untuk melumpuhkan Ahmadiyah sebagai
sebuah jamaah. Saya tidak yakin, kalangan Islam yang
memakai argumen ini benar-benar memiliki komitmen
untuk tidak mengganggu Ahmadiyah setelah sekte itu
benar-benar memisahkan diri sebagai agama baru.
Sejak awal, kelompok ini memusuhi ide toleransi dan
anti pluralisme. Bagaimana mungkin kita bisa
berharap mereka akan bersikap “pluralis” dan toleran
terhadap Ahmadiyah setelah sekte ini benar-benar
menjadi agama baru? Bagaimana mungkin kita berharap
orang-orang seperti Khalil Ridlwan, Sobri Lubis,
Al-Khatta, FPI, FUI, MMI, HTI bisa bersikap
pluralis? Mengharap mereka bersikap demikian sama
saja berharap “dua ditambah dua sama dengan lima”,
alias mustahil.

Taruhlah Ahmadiyah benar-benar menjadi agama baru,
meskipun pengandaian ini sangat sulit terjadi, maka
sejumlah masalah baru akan tetap muncul kembali.
Sebagaimana kita tahu, Ahmadiyah masih memakai
Qur’an dan hadis sebagai dua sumber utama dalam
kepercayaan mereka. Mereka juga masih beribadah
persis dengan umat Islam yang lain. Mereka masih
menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan utama.
Seluruh akidah mereka di luar masalah kenabian sama
persis dengan akidah umat Islam yang lain. Kalau pun
ada perbedaan, paling jauh hanya menyangkut
interpretasi mengenai beberapa hal yang kurang
terlalu penting (misalnya soal kematian Nabi Isa di
mana mereka memiliki interpretasi sendiri yang
berbeda dari umumnya kalangan Islam dan Kristen).

Jika Ahmadiyah menjadi agama baru, umat Islam
“ortodoks” bisa jadi akan mengangkat masalah baru
yang tak kalah rumitnya. Mereka bisa saja
mempersoalkan penggunaan doktrin, ajaran, simbol dan
atribut Islam oleh Ahmadiyah yang sudah menjadi
“agama” baru itu. Ingat protes sejumlah kalangan
Islam beberapa waktu lalu atas komunitas Kristen di
Jakarta yang memakai simbol Islam dalam ibadah
natal, seperti baju koko dan peci, dua jenis pakaian
yang dianggap sebagai milik khas umat Islam. Jika
umat Kristen memakai baju koko saja diprotes karena
dianggap “mencuri” simbol Islam, apa yang terjadi
nanti jika Ahmadiyah menjadi agama baru, sementtara
jamaahnya masih beribadah dan berkeyakinan sama
persis dengan umat Islam yang lain?

Pertanyaan yang sulit dijawab oleh kalangan Islam
adalah: bagaimana mungkin “agama baru” (yakni
Ahmadiyah) memiliki akidah, ajaran, dan ibadah yang
sama persis dengan Islam? Bagaimana mungkin seorang
Ahmadiyah yang melaksanakan salat, puasa, zakat, dan
haji sama persis dengan umat Islam yang lain
dianggap mengikuti agama lain hanya gara-gara
perkara kecil, yakni interpretasi soal kenabian?

Masalah lain: jika Ahmadiyah menjadi agama baru,
apakah mereka masih diperbolehkan mendirikan masjid
dan beribadah dengan cara yang sama dengan umat
Islam yang lain? Apakah jamaah Ahmadiyah masih
diperbolehkan memakai Qur’an dan hadis sebagaimana
umat Islam yang lain? Apakah mereka masih
diperbolehkan melaksanakan haji yang masih mereka
anggap sebagai kewajiban agama, sebagaimana
keyakinan umat Islam yang lain?

Jika tuntuntan agar Ahmadiyah menjadi agama baru
adalah meminta jamaah Ahmadiyah meninggalkan seluruh
doktrin dan atribut Islam, dan sebaliknya
menciptakan agama baru yang sama sekali beda dengan
Islam dalam segala hal, maka ini permintaan yang
konyol. Sebaliknya, jika permintaan itu hanya
sebatas Ahmadiyah mendeklarasikan diri sebagai agama
baru karena persoalan doktrin kenabian,
pertanyaannya: apakah setelah itu ada jaminan tak
ada gangguan lagi pada mereka di masa mendatang?

Jaminan itu jelas tak ada sama sekali. Sebagaimana
kita tahu, agama resmi yang jelas-jelas sudah diakui
negara seperti Kristen saja masih mengalami banyak
kesulitan untuk mendirikan tempat ibadah, misalnya,
dengan alasan melanggar SKB (Surat Keputusan
Bersama) yang dibuat begitu rupa sehingga
menguntungkan umat Islam yang mayoritas; jika
Kristen saja mengalami banyak kesulitan, apalagi
Ahmadiyah yang tentunya jauh lebih kecil ketimbang
agama Kristen. Saya menduga, jikapun Ahmadiyah
menjadi agama baru nantinya, mereka akan mengalami
tekanan yang jauh lebih berat daripada yang mereka
hadapi saat ini. Mereka kemungkinan besar akan
dihalangi untuk membangun masjid karena dianggap
akan bisa menyesatkan kalangan awam. Mereka akan
dilarang untuk berdakwah, dengan alasan bahwa dengan
memakai doktrin dan ajaran Islam yang sama dengan
ajaran yang dianut oleh umat Islam yang lain, dakwah
itu bisa menyesatkan masyarakat luas. Ingat,
Ahmadiyah di Pakistan yang dipaksa menjadi kelompok
di luar Islam, hingga saat ini masih mengalami
masalah dengan kolompok Islam arus utama yang lain.

Dengan kata lain, dengan menjadi agama baru,
Ahmadiyah menjadi lebih mudah dijadikan sasaran
empuk untuk diserang oleh kalangan Islam. Selama
Ahmadiyah masih berada di dalam Islam, kalangan
Islam konsevatif-fundamen talis itu masih mengalami
kesulitan untuk melancarkan “serangan penuh” atas
Ahmadiyah. Begitu Ahmaidyah resmi keluar dari Islam
dan menjadi agama baru, mereka bisa diserang dengan
lebih leluasa.

Harus kita ingat, kebencian kelompk Islam
konservatif- fundamentalis Islam tidak terbatas pada
Ahmadiyah. Saya melihat, Ahmadiyah hanya sasaran
antara saja. Jika mereka berhasil “melumpuhkan”
sekte kecil ini, mereka akan melancarkan eksperimen
serupa untuk menyerang kelompok-kelomok lain yang
mudah dijadikan sasaran tembak, seperti sekte
Syi’ah, atau kalangan pemikir Islam yang berpikir
kritis yang selama ini juga sudah sering mereka
benci.

Tujuan kalangan konservatif adalah: mereka mau
menjadi pemilik tunggal merek “Islam”. Mereka mau
menjadi “diktator keyakinan”.

Allahumma inna na’udhu bika min al-ghuluwwi fi
al-din, wa na’udhu bika min al-mutasyadidin wa
al-mutatharrifin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s