FPI VS Wahabi

Posted: June 15, 2012 in Uncategorized
Tags: ,

Kutipan dari http://www.nahimunkar.com

“…Ide, Kata, Makna dan Media…” by @abeinhere

 

Pengantar:

TULISAN DI BAWAH INI merupakan salah satu goresan pena pendukung Habib Riziek Shihab pentolan FPI yang marah karena guru besarnya dikatakan cenderung Syi’ah oleh nahimunkar.com, kemudian ditampilkan juga di blog ini dengan lebih jelas dan dilengkapi gambar pendukung.

Ungkapan isi hati dan isi kepala ini sengaja kami muat apa adanya, supaya umat Islam menjadi kian tahu kira-kira beginilah akhlak pengasong syi’ah sekaligus praktisi bid’ah yang guru besarnya adalah iblis.

Isi tulisannya selain caci-maki dan fitnah juga asbun. Sebenarnya secara panjang lebar sudah dibahas melalui tulisan berjudul Inikah Senjata Pengusung Aliran Sesat Syi’ah dan Praktisi Bid’ah dengan sub judul Isu Salafy-Wahabi Bagian dari Talbis Iblis. Read the rest of this entry »

Advertisements

Surat Untuk Firman Utina

Posted: December 30, 2010 in Uncategorized

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

 

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

 

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

 

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

 

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan! [inilah/ris]

 

By: Eddri Sumitra

Meski reformasi telah berjalan sepuluh tahun lebih, dan perbaikan kehidupan bangsa di berbagai bidang diselenggarakan, peran dan partisipasi perempuan dalam Pemilu 2004 belum terpenuhi secara maksimal, baik melalui mekanisme partai politik maupun keterwakilan dalam posisi dan jabatan politik tertentu.
Pada Pemilu 2004 yang lalu, banyak partai politik peserta Pemilu belum memenuhi kuota 30% bagi perempuan dalam pencalonan legislatif. Sebelumnya, dalam Pemilu 1999, pemilih perempuan yang berjumlah sekitar 57%, hanya terwakili tidak lebih dari 9% di DPR. Dari sekitar 13% perempuan calon anggota legislatif, hanya sekitar 4,3% yang berada di urutan atas, sisanya di urutan nomor “sepatu”.
Ini berarti keterlibatan perempuan pada pemilu-pemilu era reformasi justru lebih rendah dari sebelumnya. Pemilu 1992 perempuan menempati 51% dari total pemilih. Pada Pemilu 1987, perempuan adalah 16,3% dari seluruh anggota DPR. Sementara itu dalam Kabinet Reformasi (1998-1999) hanya 2 orang perempuan yang menduduki posisi menteri. Baru dalam Kabinet Persatuan Nasional (1999-2004) seorang perempuan berhasil duduk sebagai Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah. (Kompas, 3 April 2000).
Menjelang Pemilu 2009, menurut penelitian kajian wanita Universitas Indonesia (UI), tercatat total pemilih pada 2008 adalah 154.741.787 jiwa. Jumlah pemilih perempuan 76.659.325 jiwa, sedangkan pemilih laki-laki berjumlah 78.082.462 jiwa. Potensi pemilih perempuan sangat potensial. Namun dari hasil akhir Pemilu nampak sekali bahwa posisi dan peran perempuan nampak belum beranjak dari peran dan posisi yang masih tersubrodinasi oleh peran dan posisi politik laki-laki.
Untuk itu perjuangan afirmatif action yang memberi ruang bagi perempuan dalam politik masih terus dilakukan. Dalam konteks inilah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan isyarat adanya kebijakan afirmatif bagi perempuan yang sesuai dengan pasal 213 UU No. 10/2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Dalam rapat plenonya, KPU menyepakati untuk menetapkan salah satu calon anggota DPR atau DPRD terpilih dari tiga calon terpilih untuk setiap partai politik per daerah pemilihan kepada calon anggota legislatif perempuan.

Kendala Kebijakan Afirmatif
Sayangnya kebijakan afirmatif bagi perempuan ini belum bisa berlangsung mulus. Ada resistensi tinggi dari sebagian besar politisi, khususnya kaum lelaki. Ferry Mursyidan Baldan, anggota Komisi II dari Fraksi Partai Golkar (F-PG), misalnya, menilai aturan semacam itu tidak adil. Menurutnya, jika ingin mengakomodasi perempuan alam lembaga legislatif, seharusnya dilakukan dari awal dengan menentukan porsi perempuan di legilslatif. Sementara itu, Saut M. Hasibuan dari Fraksi Damai Sejahtera (F-PDS), menegaskan bahwa KPU tidak berhak menentukan calon terpilih karena akan mencederai kedaulatan rakyat. Proses afirmasi bagi perempuan, katanya, hanya berlaku pada pencalonan. Selanjutnya, rakyat yang menentukan sendiri wakilnya di lembaga legislatif (Kompas, 3/2/2009).
Kendala semacam di atas muncul, kemungkinan besar karena dalam ranah sosial dan budaya negeri ini, posisi kaum perempuan memang belum sepenuhnya berada dalam posisi dan situasi setara. Kuatnya budaya patriarkhi, telah membuat posisi kaum perempuan senantiasa tersubordinasi. Berbagai posisi kunci dalam ranah politik masih dominan dipegang kaum lelaki. Masyarakat patriarkis selalu berprasangka, perempuan cenderung berkapasitas rendah, kurang kompeten, dan tidak bermutu, hanya karena ia berkelamin perempuan. Dengan standar ganda, perempuan yang akan menduduki jabatan publik selalu dipertanyakan kualitasnya, tetapi hal itu tidak pernah atau jarang sekali dipertanyakan kepada lelaki apakah mereka mempunyai kompetensi dan kapasitas yang baik.
Di sisi lain, kebijakan afirmatif action bagi perempuan, dalam prakteknya baru ditafsirkan sebagai perjuangan perempuan untuk mendapatkan kuota 30% di kursi dewan semata. Padahal sesungguhnya tidak hanya sebatas itu. Karena pada kenyataannya, jika pun setiap laki-laki atau perempuan diberi kesamaan hak dan akses, tidak serta merta kesetaraan dapat tercapai. Jika memang tidak ada prakondisi-prakondisi yang mendukungnya. Meski kesempatan di berikan lebar-lebar kepada perempuan untuk dapat berperan, tetapi jika tingkat pendidikan, ekonomi dan kualitas lainnya tidak dipersiapkan secara matang, maka kesetaraan tidak serta merta tercipta.
Sejatinya, penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, tidak bisa dilakukan hanya dengan memberinya kuota 30 %. Dibutuhkan kebijakan afirmatif yang lebih sistematis, proaktif, progresif, dan ada kemauan politik kuat untuk melaksanakan sehingga diskriminasi berbasis jender bisa diatasi.

Partisipasi Politik Perempuan Dalam Sejarah Islam
Terkait keterlibatan politik perempuan, memang ada sedikit kontraversi di dalam pemahaman ajaran Islam. Sebagian menyatakan bahwa kepemimpinan perempuan atau keterlibatan perempuan dalam dunia politik adalah sesuatu yang diperbolehkan, dan sebagian menyatakan sebaliknya.
Umumnya ulama fiqh klasik dan sebagian ulama fih kontemporer menolak memberikan hak partisipasi politik kepada perempuan. Mereka menggunakan bermacam dalil dan argumentasi dari Al-Qur’an, Sunnah, Qiyas, dan lain sebagainya.
Mayoritas ulama syariah sekarang mulai memberi ruang partisipasi kepada para muslimah dalam hal penyenggaraan negara. Meski demikian mereka belum memperbolehkan perempuan menjadi kepala negara, tentu dengan argumentasi yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah dan persepsi mereka tentang realitas sejarah yang terjadi.
Berbeda dengan kedua kelompok itu, ulama-ulama masa kini memandang bahwa perempuan memiliki kesempatan partisipasi yang sama dengan laki-laki, Dalam kehidupan politik dan penyelenggaraan negara. Mereka ini juga menggunakan alasan sebagaimna ulama-ulama lainnya.
Realitas sejarah Islam menunjukkan, banyak tokoh-tokoh perempuan yang terlibat dalam politik. Seperti Aisyah ra., selain menjadi rujukan berbagai masalah hukum, ia juga terlibat langsung dalam politik, sebagaimana dalam perang Jamal. Naila istri khalifah Utsman, dicatat dalam sejarah sering terlibat persoalan-persoalan politik. Begitu juga Asyifa, Samra Al-Asadiyah, Khaula binti Tsa’labah, Ummu Syarik, Asma binti Abu Bakkar adalah sederet sahabat perempuan Nabi saw yang berpartisipasi aktif dalam persoalan politik. Belakangan nama Zubaidah istri Harun Ar-Rasyid, Syajarat Al-Durr dikenal sebagai politisi yang handal dan berpengaruh. Dengan demikian, meski debatable, partisipasi perempuan dalam politik dan penyelenggaraan negara, diakui dalam Islam. Wallahu’alam bi al-shawab. (abe)

Dayak Losarang, Disesatkan MUI Tapi Disayang Warga. Inilah salah satu judul pada rubrik lokal komuniti Desantara Report edisi bulan Mei-Juni tahun lalu yang memberi kesan dan gambaran awal mengenai Suku Dayak Losarang Indramayu. Tentunya pembaca masih ingat sekilas mengenai siapa dan bagaimana ajaran Suku Dayak Bumi Segandu yang lebih dikenal dengan Suku Takhmad atau Suku Dayak Losarang yang berdomisili di Kabupaten Indramayu ini.
Sekedar mengingatkan kembali, bahwasanya Suku Dayak Losarang merupakan salah satu komunitas yang dipimpin oleh Takhmad Diningrat sebagai kepala Suku. Takhmad Diningrat, yang akrab disapa dengan sebutan Bapak oleh anggotanya, telah melalui serangkain proses spiritual yang cukup panjang. Pada tahun 1974, awalnya Takhmad merupakan pimpinan sekaligus guru Perguruan Pencak Silat Serba Guna (SS). Anggota Perguruan ini cenderung melakukan kesombongan dan ketamakan dalam bersikap dan berperilaku. Karena merasa tidak puas dengan hal ini, akhirnya Takhmad Diningrat membentuk komunitas yang bernama “Jaka Utama”. Pembentukan komunitas ini merupakan i’tikad dan upaya Takhmad dalam memperbaiki moral masyarakat. Jaka Utama mengajak warga masyarakat agar selalu berbuat baik terhadap sesama manusia maupun lingkungan sekitarnya. Hingga sekitar tahun 1982, setelah Takhmad melakukan pertapaan dan perenungan, dirinya merasa perlu mengajarkan kebenaran kepada umat manusia. Takhmad yang dikenal sebagai jawara silat, kini cenderung mengajarkan kebajikan dan kebijakan dalam menyikapi kehidupan. Hingga terbentuklah apa yang disebut Suku Dayak Bumi Segandu dengan ajaran “Sejarah Alam Ngaji Rasa” yang diyakini sepenuhnya oleh para pengikutnya.
Dibalik filosofi dan nilai yang terkandung dalam ajaran yang diyakini Takhmad beserta pengikutnya, ternyata memancing MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kecamatan Losarang Indramayu untuk membungkam ajaran Suku Takhmad dengan fatwa sesatnya. Bahkan pada november tahun lalu, Fatwa MUI ini digunakan oleh pemerintah daerah Indramayu untuk mengintimidasi Suku Dayak Losarang dengan ancaman pembubaran dan penghentian aktivitas ritualnya. Tak pelak, sebagian pengikut Suku Dayak ini merasa didiskriminasi oleh oknum pemerintah daerah Indramayu dan merasa khawatir akan adanya konflik horizontal antar warga non-Dayak dan para pengikut Suku Takhmad. Akan tetapi, setelah melewati beberapa waktu, seakan kasus ini hilang ditelan bumi, nyaring tak terdengar oleh masyarakat Indramayu sendiri.

Beberapa bulan terakhir, tepatnya awal bulan Februari lalu, isu pembubaran Suku Takhmad kembali mencuat ke permukaan. Hal ini berdasarkan kecaman sesat ajaran Suku Dayak Losarang yang dilontarkan salah seorang tokoh agama (Ulama) di Desa Krimun Kecamatan Losarang KH. Amin Bay. Dalam pernyataannya di media lokal, beliau mengkhawatirkan semakin banyaknya masyarakat yang akan mengikuti ajaran sesat Suku Takhmad. Sehingga beliau mengaggap bahwa ajaran Suku Takhmad mestinya dibekukan bahkan segera dibubarkan oleh pemerintah.
Pernyataan KH. Amin Bay ini merupakan reaksi terhadap kegiatan ritual yang akan dilakukan oleh Suku Takhmad menjelang akhir bulan Februari 2009. Kegiatan yang diberi tajuk “Ruatan Putri Kraton Suku Dayak Bumi Segandu” ini baru pertama kali diadakan oleh Suku Takhmad. Pada dasarnya kegiatan ritual ini merupakan keinginan Takhmad sebagai sambung tangan dan sambung rasa (persaudaraan.red) antara Suku Dayak Losarang dengan siapapun, baik individu dalam masyarakat sekitar maupun khalayak masyarakat.
Kegiatan Ruatan Putri Kraton Suku Dayak Bumi Segandu ini sebenarnya merupakan serangkaian acara yang bersifat simbolisasi mengenai ajaran Suku Takhmad, bahwa segala sesuatunya dikembalikan kepada masing-masing individu manusia. Menurut Dedi, salah satu pengikut Dayak Losarang, tujuan diadakannya kegiatan ini yaitu untuk memperkuat tali persaudaraan dan tali silaturahmi, baik antara Suku Takhmad dengan masyarakat sekitar maupun para tamu undangan, karena sebagian yang diundang juga merupakan masyarakat adat, seperti Suku Baduy, Komunitas Cigugur, Himpunan Pengawas Kepercayaan (HPK) dan Aliansi Bhinneka Tunggal Ika.
Rencana kegiatan ini dimulai tanggal 18–26 Februari 2009. Seminggu pertama awalnya diisi dengan pameran adat dan budaya dari masing-masing komunitas adat yang diundang. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti yaitu Ruatan Putri Kraton, dan hari terkahir ditutup dengan pertunjukan wayang kulit kepada masyarakat sekitar. Acara arak-arakan Ruatan Putri Kraton yang bersifat simbolis inipun, sebenarnya hanya diisi dengan atraksi reog atau wayang uwong kemudian diisi pula dengan atraksi kebo ngamuk sebagai lambang karakter masing-masing manusia. Sehingga diharapkan dapat menggambarkan bagaimana seharusnya keharmonisan antar manusia, baik dengan manusia lainnya maupun dengan alam dapat terwujud.
Terlepas dari makna kegiatan tersebut, kegiatan ini relatif berjalan baik, karena antusiasme dan partisipasi masyarakat sekitar cukup tinggi. Masyarakat sekitar memberikan dukungan berupa tenaga maupun materi untuk keberlangsungan kegiatan tersebut. Hanya saja memang, kegiatan ini sempat mendapat sorotan tajam media dan sebagian pemerintah Indramayu mengenai kesesatan ajaran Suku Takhmad Dermayu ini. Selain pertentangan tersebut datang dari KH. Amin Bay seperti dilansir harian umum Radar Cirebon, tak kalah tajamnya ancaman pembubaran diutarakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, H. Hasyim Djunaedi SAg MBA. Beliau mendesak agar aparat Kepolisian Resort Indramayu segera bertindak tegas terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Suku Dayak Losarang. Beliau menganggap bahwa kegiatan Ruatan Putri Kraton telah melanggar keputusan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat atau Pakem.
KH. Amin Bay menganggap bahwa kegiatan Ruatan Putri Kraton tidak mengantongi izin resmi dari pemerintah. “Saya yakin acara itu tidak berijin. Sama seperti acara-acara yang dulu pernah dilakukan sebelumnya. Jadi perlu ditertibkan. Kalau melawan, tindak tegas saja,” ujarnya. (Radar Cirebon, 17/2). Alasan tokoh ini samahalnya pada tahun 2007 lalu, yang menyatakan bahwa keberadaan Suku Dayak Losarang dapat mengganggu ketertiban dan meresahkan masyarakat Muslim Indramayu.
Setelah dikonfirmasi perihal perizinan kegiatan, diakui Dedi memang proses perizinan dirasa masih banyak kekurangan. “Maklum, ini pertama kalinya Suku Dayak melaksanakan kegiatan seperti ini” terang Dedi. Dedi menjelaskan bahwa Suku Dayak Losarang sebisa mungkin melakukan perizinan sesuai aturan dan tata tertib yang berlaku dalam Pemerintahan. “Pada mulanya, kita diberitahu Kapolres bahwa untuk mengadakan acara hanya membuat surat pemberitahuan saja, kemudian ada konfirmasi lanjutan dari aparat pemerintah bahwa perlu membuat surat perizinan, tapi macet di tingkat Kecamatan. Padahal sebelumnya sudah dilakukan konfirmasi ke Kapolres dan Koramil, dan mereka respect” tutur Dedi. Hanya saja ada saling lempar tanggung jawab antara Kecamatan dan Koramil. Diakui Dedi, ada saling lempar tanggung jawab dalam proses perizinan, pihaknya mendatangi Camat Losarang untuk mendapat petunjuk perizinan, akan tetapi menurut Camat Losarang, Drs. Prawoto, mengungkapkan bahwa pihak panitia harus mendapatkan izin dan petunjuk Koramil terlebih dahulu sebelum meminta izin darinya. Akhirnya pihak Dayak Losarang mendatangi Koramil untuk mendapatkan izin dari Koramil. Akan tetapi pihak Koramil meminta sebaliknya, agar mendapat persetujuan Camat terlebih dahulu sebelum datang ke Koramil. Kemudian akhirnya panitia penyelenggara mendesak agar Koramil bisa memberikan petunjuk perizinan sesuai dengan alasan Camat Losarang. Setelah mendapat petunjuk perzinan, panitia penyelenggara kegiatan mendatangi Drs Prawoto untuk mendapatkan izin kegiatan, akan tetapi setelah mendatangi Camat Losarang, Drs. Prawoto belum bisa memberikan tanda tangan perizinan acara dengan alasan menunggu koordinasi dari pemerintah Kabupaten Indramayu.
Karena keterbatasan waktu yang ada, kegiatan tersebut tetap berlangsung. ”Saya tidak merasa menentang mereka (kecamatan.red), kita sadar kita harus melakukan proses perizinan kegiatan terlebih dahulu, selama kegiatan berlangsungpun, pemerintah selalu mengontrol kegiatan guna menjaga kondusifitas dan keamanan”, papar Dedi. Dedi berharap agar pemerintah bisa berlaku adil kepada komunitasnya. Apalagi sebenarnya kegiatan ini mendapat rekomendasi Wagub Jawa Barat, Dede Yusuf, agar menjadi agenda tahunan. Wagub menyarankan agar kegiatan serupa dapat terbangun bersama Dinas Pariwisata Budaya Kabupaten Indramayu.

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala maulana wa syafiina wa habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a sunnatahu wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.

Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil Mushtafa, Habibabana wa hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai al-Idrus. Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan Kriyani, Rekan-Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII, pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati wa Sayidati ahlil kubur

Alhamdulillah pada malam hari ini, saya juga merasa berbahagia bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati sebeti rasulillah saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as. Mudah-mudahan kita semua medapatkan berkahnya, syafaatnya, sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia akhirat amin ya rabbal amin.

Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya harap kepada seluruh panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam. Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun. Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa.

Hadirin yang saya hormati, setelah al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibantai, dibunuh pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar, hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang puasa, dan hafal al-Qur’an. Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam. Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali menerima hasil rapat manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (maka barang siapa menggunakan selain hukum Allah, maka kafir). Ali tidak menggunakan hukum Allah, tetapi menggunakan hukum hasil kesepakatan rapat di Dummatul Jandal. Kalau kafir, maka harus dibunuh. Eh anak kemarin sore, mentang-mentang jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-shibyan, shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al-mubasyirun bi al-jannah, bab al-ilm.

Anak kemarin sore berani mengkafirkan remaja yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di masjidil haram. Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan teman-temannya. Waktu itu yang pertama kali shalat jama’ah di masjidil haram tiga orang. Saat itu imamnya Rasulillah, makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu.

Ali adalah shihru rasulillah, menantu rasul. Ia juga dijuluki bab al-ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali juga adalah min al-sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga. Di samping sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.

Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di Khaibar. Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini dikafirkan oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam.

Ini, penyakit seperti ini sudah mulai masuk ke Cirebon. ”Alah baca al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti nggak itu asbab al-nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah hadits? Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah? Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang biasa aja nggak bener kok! Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu ilmu kalam? Tarikhu Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah? Ngerti nggak itu? Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa, juhala. Alah. ”

Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah, maka gubernur Syam, Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai penguasa tunggal. Lalu setelah itu buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra mahkota, yang akan mewariskan tahta, artinya kalau ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah anak seorang ibu yang bernama Maesun, orang Badui pedalaman, yang tidak suka tinggal di istana, dan suka hidup di padang pasir dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri tidak pernah belajar ngaji dan belajar agama, ia hanya belajar berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata.

Setelah Muawiyah meninggal, Yazid langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa utusan berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari tokoh-tokoh yang ada kepada Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke Basrah, ke Kuffah dan juga diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah, para sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”, katanya.

Lalu Sayyidina Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh keluarganya meninggalkan Madinah al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah. Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang ke Minna, beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering haji.

Ketika Sayyidina Husein keluar dari Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau melakukan perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat. Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur dan mudah tidak hianat.

Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai yang mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana. Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang Kuffah, mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”. Sayyidina Husein menjawab, saya akan tetap menuju Kuffah. Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu, perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”. Tetapi mereka tetap diajak bersama. Rupanya Allah sudah menentukan mati syahidnya Husein, sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain. Akhirnya beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya. Ada bukunya berjudul Ashabu Husein, sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang.

Setelah Sayyidina Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya. ”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara sama siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut. Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan bait-bait syair, yang artinya:

Tadi yang saya ajak ngomong itu, kamu ndak tahu? Kamu ndak tahu?
Dia sudah dikenal seluruh umat manusia
Baik penduduk tanah halal dan tanah haram
Ka’bah pun sudah kenal dia
Siapa dia itu?
Dia adalah anak orang yang paling mulia (Sayyidina Ali)
Dia adalah orang yang bertakwa, bersih dan suci
Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah
Ketika orang Quraish melihatnya
Orang Quraish akan mengatakan, bahwa orang inilah
ujung orang yang mendapat kemuliaan
Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di akhiri
Karena kakeknya Nabi yang terakhir

Sayidina Husein beserta rombongan terus melanjutkan perjalanan. Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn Ziyad, yang dipimpin Umar ibn Sa’ad ibn Abd al-Waqas.

Terjadi peperangan yang tidak seimbang, termasuk hampir tentara Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut Sayidina Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal karena tidak keluar kemah karena sedang sakit demam. Dan juga istri Sayidina Husein, Fatimah, adiknya juga Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4 orang yang selamat.

Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan hendak membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan mengatakan kalau bisa jangan saya yang membunuh, tetapi yang lain saja. Kalau datang waktu adzan, waktu shalat, semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu bertempur lagi.

Sampai akhirnya seorang yang menjadi jausyan (tentara, algojo), dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya. Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya ditancapkan di tombak, dibawa ke Kuffah, diarak keliling kota Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah lalu dibawa ke Syiria, Damaskus. Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya, anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.).

Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang di depan istana Yazid. Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup lama terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan membawa kepala itu pulang ke Madinah. Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah. Karena takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian kepala tersebut dibelokkan ke Mesir. Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah.

Saudara-saudara dan para hadirin sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa pun, keyakinan apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen bisa maju karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak pengorbanan. Demikian juga Islam, berkembang sampai sekarang karena pengorbanan syuhada, banyak nyawa yang mengalir, demi mempertahankan agama Islam.

Pertama kali yang syahid dalam agama Islam adalah perempuan, namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya Amar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu kemudian, suaminya dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad. Begitu pura-pura murtad, langsung menghadap Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul. Rasul menanyakan, bagaimana isi hati Amar? Amar menjawab, hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena memang dalam keadaan terpaksa. Jadi yang pertama syahid dalam Islam itu perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau perempuan itu buktinya ada.

Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada Uhud. Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay, Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang lainnya. Darah syuhada mengalir demi melanggengkan ajaran Islam.

Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia. Islam bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina Husein. Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu bait yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir. Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim punya putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya putra namanya, ’Isha. ’Isha punya putra Ahmad. Ahmad hijrah dari Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik. Para wali songo di pulau Jawa ini adalah kuturunan dari al-’Uraifi. Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia.

Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia. Dengan syahadah Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada malam hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw. Kita ini bukan saudaranya, bukan cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya. Coba kalau kita balik doanya, doakan bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.

Islam yang datang ke Jawa ini adalah Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth, berfikir moderat. Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang galak. Mereka berdakwah dengan cara dan sarana-sarana kebudayaan yang ramah. Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau sekarang, dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang galak. Yang jelas dulu tidak ada para habaib kalau berdakwah pakai cara-cara mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu, kalau sekarang, mungkin ada habib yang berdakwah secara keras?

Dakwah para dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan memasukkan bahasa dan budaya ke sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia. Dulu para ulama memoles sedemikian rupa, melalui cara-cara budaya, bahasa, yang damai. Tidak ada paksaan dalam agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam

Ada seorang namanya al-Hasyim dari Bani Salim al-Khazraj. Ia musyrik, punya dua anak beragama Kristen. Sewaktu Nabi masuk Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi: ”La ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam agama). Jadi asbab al-nuzul turunya ayat La ikraha fi al-din adalah karena kondisi berikut.

Oleh karena itu, mari kita yang ahli sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan bahwa kita berakhlak. Kita jauhi segala tindak kekerasan, kita jauhi cara-cara dakwah syiddah dan ikrah.

Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari pembalasan tetapi hari kembali membangun kasih sayang (yaumul marhamah). Dengan demikian sekonyong-konyong para musuh Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka dan meminta ampun mereka kepada Allah

Islam bukan hanya agama aqidah dan syariah. Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun dan Tsaqafah, Islam adalah agama peradaban dan pengetahuan. Globalisasi yang di bawah islam dari timur ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti kita laksanakan sekarang ini

Oleh karena itu, agama tidak akan maju, bila tidak dibarengi dengan peradaban. Agama tidak akan maju bila tidak dibarengi dan diwarnai dengan budaya. Karena agama itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan secara manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan. Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan langgeng bila tidak dibarengi dengan budaya. Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan dengan aktifitas manusia di bumi. Menjadikan peradaban sebuah doktrin.

Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau kamu punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok. Tetapi ayo menyembelih kambing saja. Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh dipojok mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari undang para tetangga untuk makan-makan dan doa serta tahlil bersama. Nah dakwah semacam ini kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini itu syirik dan bid’ah, nanti umat lari.

Jangan sekali-kali menuding ini itu syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?. Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan Nabi itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan oleh Abu Aswad al-Dualy pada th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an, maka, Imam Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah.

Sudah ada titik dan syakal, nyatanya masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn Salam w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al-Qur’an. Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu Tajwid. Ilmu Tajwid itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu bid’ah. Karena memang Rasul tidak mengajarkannya.

Contoh lagi, ada seorang gubernur dari Asia Tengah, Amir al-Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i (Imam Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah-kaidah Ushul Fiqh. Serta ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu Fiqh. Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh, yang susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu

Contoh satu lagi, biar jelas saja. Contohnya ada orang pergi haji, masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana arahnya, naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah sebaiknya bagaimana, yah ikut saja rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja.

Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik tanpa ilmu Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan sahabat Abu Bakar, Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh. Nah bila ada orang shalatnya bagus sekali, lalu kita tanya, Bapak kan shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong. Kalau mau jujur, ia sebenarnya belajar dari ayah atau gurunya, yang mentok-mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau kalau Safinah terlalu besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal buku Petunjuk Shalat Lengkap.

Yang namanya ibadah itu harus dengan ilmu. Sedangkan ilmu itu bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanya hadits dha’if dan palsu. Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak dan pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu.

Karena itu mari mulai malam hari ini, tingkatkan ahlak kita, tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung, polosan. Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab, nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu hadits maka harus memahami ilmu mushtalah al-hadits.

Pada kesempatan ini, mari kita rayakan jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan ahlu bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw. Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak apa-apa, silahkan saya dianggap Syiah.
Sesungguhnya, tragedi pembantaian di Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan. Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga.


Tulisan ini adalah rekaman ceramah KH. Said Aqiel Siradj [Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)] pada acara peringatan 10 Muharam di Keraton Kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang dibayang-bayangi tindak intoleransi dan diskriminasi. Rekaman ini dituliskan oleh Ali Mursyid

Pers Release Peluncuran Buku dan DVD
“ILUSI NEGARA ISLAM”
الحمدلله رب العالمين وبه نستعين على أمورالدنيا والدين
والصلاة والسلام على أشرف الأنبيآء والمرسلين سيدنا مجمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين ، اما بعد

The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan The Maarif Institute

Tokoh Islam Moderat Meluncurkan Buku–“Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,” dan dan Seri TV/Video–“Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin,” untuk Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin

Jakarta, 16 Mei 2009

JAKARTA, INDONESIA (16 Mei 2009)—Tiga tokoh besar Islam moderat meluncurkan buku dan seri video untuk melestarikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia yang santun dan toleran berdasarkan nilai-nilai luhur agama, serta mewujudkan dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Program ini juga bertujuan membantu dunia mengatasi krisis kesalahpahaman tentang agama dan kesalahkaprahan pengamalannya yang mengancam kedamaian di mana-mana.

Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya), dan tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), bersama-sama mengajak dan berusaha mengilhami masyarakat dan para elit untuk bersikap terbuka, rendah hati, dan terus belajar agar bisa memahami agama secara spiritual dan mendalam. Karena dengan cara demikian pemahaman agama kelompok garis keras yang dangkal dan sempit tidak akan bisa menginfiltrasi dan menghasut bangsa Indonesia untuk mengkhianati nilai-nilai luhur ajaran agama serta tradisi dan budaya bangsanya.

“Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama mereka terus belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang berhenti belajar dan menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan kemudian menganggap yang lain salah. Sebab, sabda Nabi saw., ‘Orang akan tetap baik-baik saja, tetap pandai selama mau belajar. Ketika orang itu berhenti belajar karena sudah merasa pandai, mulailah dia bodoh’,” (Gus Mus).

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Kelompok-kelompok garis keras telah menggunakan simbol-simbol agama untuk merekrut dukungan umat Islam. Dengan menggunakan bahasa yang sama dengan umat Islam pada umumnya, mereka berusaha meraih dukungan atas nama agama sebanyak-banyaknya. Padahal, makna yang mereka pahami jauh berbeda dari makna yang lazim dipahami oleh umat Islam Indonesia.

Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bangunan bangsa dan negara Indonesia, yang kini dibayang-bayangi oleh infiltrasi paham dan aksi-aksi gerakan transnasional yang meresahkan. Demi tujuan ini, mereka menyerukan persatuan dan kerjasama semua pihak dan lapisan masyarakat, karena kebenaran yang tidak terorganisai bisa dikalahkan oleh kejahatan maupun kezhaliman yang terorganisasi.

The Wahid Institute, Maarif Institute, dan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika bersama-sama menerbitkan buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang merupakan hasil penelitian lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun. Penelitian lapangan yang meliputi 24 kabupaten di 17 propinsi ini melibatkan tak kurang dari 30 peneliti yang kebanyakan berasal dari jaringan UIN/IAIN… Mereka telah melakukan wawancara mendalam terhadap 591 responden yang berasal dari 58 kelompok dan organisasi yang berbeda.

Buku ini juga dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan para ulama, intelektual, aktivis ormas Islam, para pengusaha, praktisi pendidikan, dan pejabat pemerintahan yang merasa prihatin dengan perkembangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Penelitian lapangan dan konsultasi dengan para tokoh ini berhasil mengungkap asal-usul, ideologi, agenda, dana, sistem, dan jaringan gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Di samping rekomendasi untuk menghadapi dan mengatasi gerakan garis keras, buku ini juga menyajikan counter teologis atas klaim-klaim telogis mereka.

“Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk mengbangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa, tentang bahaya ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke Tanah Air oleh gerakan transnasional Timur Tengah dan tumbuh seperti jamur di musim hujan dalam era reformasi kita,” tulis KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Buku ini adalah salah satu buku yang bisa menggugah kesadaran kita,” kata Prof. Dr. A. Syafii Maarif, yang juga merupakan salah seorang narasumber dan penasehat seri televisi Lautan Wahyu.

Sedangkan seri video Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin adalah hasil interview dengan para ulama dan intelektual dalam dan luar negeri mengenai beberapa aspek ajaran Islam, terutama yang selama ini telah dipahami dan dipraktikkan secara salah kaprah. Seri Lautan Wahyu ini diharapkan bisa membuka pikiran dan hati serta memperluas wawasan tentang ajaran Islam, agar tujuan utama Kanjeng Nabi Muhammad saw. diutus, yakni sebagai wujud kasih-sayang Tuhan bagi seluruh makhluk yang akhir-akhir ini seperti dibantah oleh aksi-aksi beberapa kelompok umat Islam sendiri, bisa terwujud sebagaimana mestinya.

“Pesan al-Qur’an memang luar biasa, sebesar kesadaran manusia sendiri. Kalau kesadaran manusianya barbarian, apalagi (al-Qur’an) hanya dibaca untuk pembenaran berkelahi,” ungkap Moeslim Abdurrahman, maka Islam tidak akan bisa menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan, “Setiap dakwah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Qur’an (hikmah, peringatan yang baik, perdebatan yang lebih baik), adalah dakwah yang salah. Para ulama dan intelektual wajib mengingatkan pelaku dakwah yang demikian, dan jika mereka menolak maka pemerintah wajib menangkap dan menghukum mereka sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas Syeikh al-Akbar al-Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, salah seorang narasumber dan penasehat program Lautan Wahyu.

Buku dan seri TV/video ini menegaskan pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur agama, tradisi dan budaya bangsa yang santun serta toleran, dan sekaligus menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan term-term keagamaan yang selama ini sering digunakan oleh gerakan extremis transnasional untuk merekrut simpati dan dukungan dari umat Islam, seperti dakwah, amar ma‘rûf nahy munkar, Khilafah Islamiyah, dan lain-lain. Secara khusus, dalam buku ini juga dilampirkan dokumen SKPP Muhammadiyah No. 149/Kep/I.0/ B/2006 yang merupakan keputusan untuk membela diri dari infiltrasi partai politik seperti PKS, dan Keputusan Majlis Bahtsul Masa’il NU bahwa Khilafah Islamiyah maupun negara Islam tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qur’an maupun hadits. Dokumen-dokumen ini adalah peringatan tegas dan kuat bahwa gerakan transnasional yang mengancam Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta praktik dan tradisi keberagamaan bangsa Indonesia.

Usaha untuk mengatasai ancaman ini harus dilakukan secara damai dan bertanggung jawab, khususnya melalui pendidikan dan pembinaan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Maka tanpa mengesampingkan pentingnya pembangunan ekonomi, pengelolaan pendidikan dan aspek-aspek keagamaan yang mengutamakan tradisi dan budaya bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai luhur agama, dalam jangka panjang merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia dalam bentuk e-book dapat diperoleh secara gratis melalui http://www.bhinnekatunggal ika.org

Tanggapan Atas Artikel Kandepag Kabupaten Cirebon Mengenai Gratia

Beberapa bulan yang lalu, ada sekelompok yang mengaku mewakili umat Islam mendatangi salah satu radio di Kota Cirebon, kedatangan mereka bukan tanpa alasan, akan tetapi kelompok ini meminta agar pihak Radio Gratia mematuhi Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 01/Ber/MDN-MAG/1969 Tanggal 13 September 1969 mengenai Pendirian Rumah Ibadah.

Tuntutan ini didasarkan atas penyalahgunaan perizinan gedung radio tersebut, yang awalnya merupakan gedung umum kemudian dijadikan kegiatan umat Kristiani dengan sajian siaran radio yang berisi dakwah-dakwah kerohanian umat Kristen. Selain itu kelompok (yang mengatasnamakan FUI, FUUI dan GAPAS) ini menganggap bahwa ada misi-misi tertentu dalam siaran dakwah di radio itu, sehingga mereka menuntut penghentian siarannya.
Boleh atau tidaknya siaran sebuah radio, tentu terkait izin siarannya. Mengenai izin siaran, pihak pengurus radio menegaskan bahwa izin siaran radio Gratia memang diperuntukkan untuk umum,  bukan perizinan khusus mengenai siaran berdakwah. Pengurus Radio Gratia menyatakan bahwa siaran tersebut ditujukan untuk komunitas Kristiani, akan tetapi oleh kelompok yang menggugatnya, siaran radio Gratia dianggap berpotensi menyebabkan pemurtadan ummat Muslim di Cirebon.
Sebenarnya, beberapa radio lokal di Cirebon, mempunyai keragaman Read the rest of this entry »